Selasa, 07 Desember 2010

KEUTAMAAN VARIASI DALAM PROSES PEMBELAJARAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses pendidikan yang dalam hal ini proses belajar mengajar ditentukan keberhasilannya oleh berbagai komponen belajar seperti pendidik/guru, peserta didik/siswa, materi pelajaran dan tujuan proses belajar mengajar. Bila hal-hal diatas telah terpenuhi dengan baik maka keberhasilan proses belajar mengajar besar harapan akan tercapai dengan baik berupa out put pendidikan yang sesuai dengan harapan tujuan pendidikan secara umum maupun secara khusus.
Namun tidak dipungkiri bahwa pada zaman sekarang ini khususnya di dalam proses pembelajaran adakalanya siswa, bahkan guru mengalami kejenuhan. Hal ini tentu menjadi problem bagi tercapainya tujuan pembelajaran. Untuk mengatasi kejenuhan itu perlu diciptakan situasi dan kondisi belajar mengajar yang bervariasi sehingga kondisi di kelas tidak menjenuhkan bahkan siswa aktif di dalam proses pembelajaran tersebut.
Berangkat dari masalah diatas, maka dari itu kami melakukan study tentang “Keutamaan Variasi dalam proses Pembelajaran” yang kami susun dalam pembuatan makalah ini.
B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan permasalahan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan variasi?
2. Sebutkan apa saja tujuan variasi di dalam proses pembelajaran?
3. Bagaimana prinsip penerapan variasi dalam proses pembelajaran?
4. Sebutkan dimensi-dimensi variasi yang ada di dalam proses pembelajaran?




BAB II
PEMBAHASAN
KEUTAMAAN VARIASI DALAM PROSES PEMBELAJARAN
A. Pengertian Variasi
Menurut kamus ilmiah populer , variasi adalah selingan, selang-seling, atau pergantian. Udin S. Winataputra (2004) mengartikan variasi sebagai keanekaan yang membuat sesuatu tidak menoton. Variasi dapat berwujud perubahan-perubahan atau perbedaan-perbedaan yang sengaja diciptakan untuk memberikan kesan yang unik. Misalnya dua model baju yang sama tetapi berbeda hiasaannya akan menimbulkan kesan unik bagi masing-masing model tersebut. Adapun variasi mengajar merupakan keanekaragaman dalam penyajian kegiatan mengajar.
Guru yang mampu menghadirkan proses pembelajaran yang bervariasi kemungkinan besar kejenuhan tidak akan terjadi. Kejenuhan siswa dalam memperoleh pelajaran yang diamati selama proses pembelajaran berlangsung seperti kurang, mengatuk, mengobrol dengan sesama teman atau pura-pura mau ke kamar kecil hanya untuk menghindari kebosanan. Karenanya, pembelajaran yang bervariasi sangat urgen sehngga situasi dan kondisi belajar mengajar berjalan normal.

B. Tujuan Variasi Dalam Proses Pembelajaran
Pupuh Fathurrahman dan M. Sobry Sutikno (2007) menjelaskan bahwa dalm konteks pembelajaran, variasi diperlukan dengan tujuan:
1. Agar Perhatian Siswa Meningkat
Selama proses belajar mengajar berlangsung, siswa dituntut untuk memperhatikan materi, sikap dan teladan yang diberikan guru. Apabila perhatian siswa berkurang apalagi tidak memperhatikan sama sekali, sulit diharapkan jika siswa mengetahui dan memahami apa yang diuraikan guru. Oleh karena itu, tujuan pembelajaran akan tercapai manakala kendala-kendala di atas dapat teratasi, di samping siswa mau dan mampu mencerna pelajaran yang diberikan guru dengan penuh perhatian. Dengan perhatian penuh tersebut diharapkan siswa akan mampu menguasai materi pelajaran yang diberikan guru.
2. Memotivasi Siswa
Menurut George R. Terry motivasi adalah keinginan dalam diri seseorang individu yang mendorongnya untuk bertindak. Sedangkan menurut Harold Koontz motivasi menunjukan dorongan dan usaha untuk memenuhi/memuaskan suatu kebutuhan atau untuk mencapai suatu tujuan. Olehkarena itu sesuai definisi tersebut didalam belajar guru dapat mengamati perbedaan prestasi siswa yang satu dengan yang lainnya. Hasil pengamatan niscaya akan menunjukan bahwa semakin tinggi prestasi yang dicapai seorang dicapai seorang siswa salah satunya terkait dengan besarnya motivasi yang ia miliki.
Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa motivasi memegang peranan penting dalam belajar. Siswa yang tidak memiliki motivasi belajar, dengan demikian tidak akan mendapatkan kualitas belajar dan prestasi yang baik. Selain sendiri harus menjaga motivasinya, guru juga hendaklah membantu siswa untuk menjaga dan meningkatkan motivasi belajarnya. Dalam konteks itulah variasi belajar yang dilakukan oleh guru berkontribusi besar untuk membantu siswa agar lebih termotivasi dalam belajar.
Memang terdapat banyak siswa memilih-milih pelajaran berdasarkan kesenangannya. Hal yang paling sering terjadi, siswa kurang termotivasi untuk belajar matematika. Hal ini terjadi bukan diebabkan oleh pandangan siswa bahwa matematika sulit tetapi kemungkinan guru matematika kurang mampu menampilkan pelajaran matematika dengan berbangai variasi.
Pada setiap siswa sesungguhnya memiliki potensi yang sama terhadap motivasi, atau lazim disebut degan “motivasi intrinsik” peranan guru dalam hal ini ada dua. Pertama, mempertebal motivasi intrinsik siswa. Kedua, guru merupakan faktor motivasi ektrinsik atau motivasi untuk belajar. Melalui pengajaran bervariasi itulah berarti guru telah mampu menghadirkan motivasi ektrinsik.
3. Menjaga Wibawa Guru
Guru hendaklah menyadari dahwa kehadirannya sewaktu megajar tidak seluruh siswa menyenanginya. Banyak guru yang kehaadirannya di kelas disambut degan senyum kecut, ditertawai, bahkan pedakalanya siswa mengunjing guru baik melalui singgungan (tidak langsung) atau menggunjing ketika guru itu selesai mengajar. Kondisi ini akan berpengaruh buruk terhadap penerimaan materi pelajaran oleh siswa. Dengan kata lain, siswa tidak akan optimal mengikuti dan memperoleh pengajaran dari guru.
Faktor ketidaksenangan siswa terhadap guru umumnya terjadi sebagai reaksi terhadap perilaku guru selama mengajar. Umpamanya, ketika mengajar guru duduk saja sehingga umpamanya siswa menyebutnya “Pak Ambeyen”. Atau guru hanya menggunakan ceramah saja sehingga tidak pernah melakukan tulis menulis di papan tulis sehingga umpamanya siswa menyebutnya “Tukang Obat”. Gunjingan tersebut dengan jelas merendahkan guru di mata siswa tetapi seorang guru harus menjadi panutan bagi siswanya.
Untuk menghindari berbagai kejadian yang dapat merendahkan wibawa guru, salah satunya guru harus mampu mengajar dengan penuh percaya diri, memilki kesiapan mental dan intelektual, memiliki kekayaan metode, keluasan tehnik, dan sebagainya. Dengan kata lain guru harus memilki bentuk dan model pengajaran yang bervariasi.
4. Mendorong Kelengkapan Fasilitas Pengajaran
Aspek lain yang sangat penting bagi kemampuan guru memiliki variasi mengajar bergantung dari ketersediaan fasilitas yang ada di kelas/sekolah. Sebab, sangat disadari bahwa fasilitas merupakan kelengkapan belajar yang harus ada di sekolah. Fungsi fasilitas antara lain sebagai alat bantu, peraga dan sumber belajar (Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 1996). Jika guru mampu menghadirkan pengajaran yang bervariasi maka dengan sendirinya akan memicu sekolah menyediakan berbagai fasilitas yang mendukung bagi penggunaan pengajaran yang bervariasi. Atau setidaknya siswa secara kreatif menyediakan berbagai fasilitas yang memungkinkan ketika guru mengajar tersedia fasilitas yang memadai.
C. Prinsip-Prinsip Penggunaan Variasi Dalam Proses Pembelajaran
Ada tiga prinsip penerapan variasi dalam proses pembelajaran, berikut ini:
1. Variasi hendaknya digunakan dengan maksud tertentu, relevan dengan tujuan yang hendak dicapai, sesuai dengan tingkat kemempuan siswa. Penggunaan variasi yang wajar dan beragam sangat dianjurkan. Sebaliknya, pemakaian yang berlebihan akan menimbulkan kebingungan, malah dapat mengganggu proses pembelajaran.
2. Variasi harus digunakan secara lancar dan berkesinambungan sehingga tidak akan merusak perhatian siswa dan tidak mengganggu pelajaran.
3. Sejalan dengan prinsip 1 dan 2, komponen variasi tertentu memerlukan susunan dan perencanaan yang baik. Artinya, secara eksplisit dicantumkan dalam rencana pembelajaran. Akan tetapi, apabila diperlukan komponen keterampilan tersebut dapat digunakan secara luwes dan spontan.

D. Dimensi-Dimensi Variasi Dalam Proses Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran, ada beberapa dimensi variasi yang harus diperhatikan, berikut ini:
1. Variasi Dalam Gaya Mengajar Guru
Variasi dalam gaya mengajar guru banyak sekali. Beberapa diantaranya yang termasuk dalam variasi gaya mengajar guru, sebagai berikut:
a. Penguatan Variasi Suara
Tidak dapat dipungkiri bahwa suara guru memiliki peranan penting dalam melahirkan kualitas variasi mengajar. Karena itu, intonasi, nada, volume, dan kecepatan suara guru perlu diatur dengan baik. Dalam hal ini termasuk perubahan nada suara yang keras menjadi lemah, dari tinggi menjadi rendah, dari cepat menjadi lambat, dari suara gembira menjadi sedih, atau disaat memberikan tekanan pada kata-kata tertentu.
Penekanan dilakukan kepada beberapa peristiwa atau kata kunci dalam materi pelajaran yang tengah disampaikan agar siswa memahami aspek-asoek yang terpenting dari materi pelajaran yang diterimanya. Umpamanya, guru menggunakan kalimat “sekali lagi bapak/ibu tekankan” atau “coba anda perhatikan” dan sebagainya.
b. Pemberian Waktu
Setelah guru menyampaikan materi pelajaran, siswa perlu diberi waktu untuk menelaah kembali atau mengorganisasikan pertanyaan-pertanyaan guru yang belum jelas.
c. Kontak Pandang
Untuk meningkatkan hubungan dengan siswa ketika guru menyampaikan materi pelajaran hendaklah berbagi pandangan kepada seluruh siswa dan tidak dibenarkan memandang kepada orang tertentu saja. Kontak pandang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi (seperti membesarkan mata tanda tercengang), atau dapat juga digunakan untuk mengetahui perhatian dan pemahaman siswa.
d. Gerakan Anggota Badan dan Mimik
Variasi dalam ekspresi wajah guru, gerakan kepala dan badan adalah aspek yang amat penting dalam berkomunikasi. Sehingga di dalam menyampaikan materi, seorang guru hendaklah tidak seperti patung (berdiri saja) atau tidak seperti orang yang lumpuh (duduk saja). Guru perlu bergerak di depan kelas. Gerakan ini penting agar merasakan kehadiran guru dalam setiap dirinya, seluruh ruang dan waktu.
e. Pindah Posisi
Perpindahan posisi selain bermanfaat bagi guru itu sendiri agar tidak jenuh, juga agar perhatian siswa tidak monoton. Dengan bergerak, berarti guru tidak berada dalam satu posisi saja, melainkan ia berpindah-pindah tetapi perpindahan tersebut harus sewajarnya tidak boleh berlebihan. Beberapa petunjuk praktis diantaranya:
1) Jangan membiasakan menerangkan sambil berjalan mondar mandir tetapi juga jangan membiasakan menerangkan sambil duduk saja.
2) Jangan membiasakan bergerak bebas dalam kelas, hal ini terkandung maksud sambil memberikan dorongan dan menanamkan rasa dekat dan sekaligus sambil mengontrol tingkah laku siswa.
3) Jangan membiasakan menerangkan selalu sambil menulis menghadap papan tulis.
2. Variasi Dalam Penggunaan Media
Ada tiga komponen dalam variasi media, yaitu media pandang (visual), media dengar (audio), dan media taktil. Ketiga media ini harus digunakan secara bervariasi dalam arti berganti-ganti bahkan mungkin ketiganya digunakan. Penggunaan variasi media ini karena besar kemungkinan tiap anak mempunyai kesenangan yang berbeda dalam menggunakan alat indera untuk belajar, maka pendekatan multiindera ini akan dapat memenuhi selera anak yang berbeda tersebut. Ketiga jenis variasi media tersebut, sebagai berikut:
a. Variasi Media Pandang
Media pandang adalah media yang dapat dilihat dengan panca indera. Media pandang merupakan hal yang sangat penting untuk diperkenalkan dan dipergunakan oleh guru ketika membelajarkan siswanya.
Media pandang sebagai media pengajaran diantaranya media buku, majalah, globe, peta, film, film strip, gambar, grafik, papan tulis, poster dan sebagainya. Media ini berguna untuk:
1) Membantu pemahaman konsep dan abstrak kepada penjelasan yang konkret;
2) Agar siswa memiliki perhatian optimal terhadap materi pembelajaran;
3) Membantu penumbuhan watak kreatif dan mandiri siswa;
4) Mengembangkan cara berfikir siswa yang konsisten dan berkesinambungan;
5) Memberikan pengalaman baru dan unik.
b. Variasi Media Dengar
Media dengar adalah media yang hanya dapat didengar saja atau berkaitan dengan indera pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan kedalam lambang-lambang auditif baik verbal maupun non verbal. Misalnya radio, rekaman dan HP.
Guru yang hanya mengandalkan suara saja tampaknya tidak cukup bagi proses belajar sisiwa. Selain keras lemah, tinggi-rendah, cepat-lambat, dan gembira atau sedih dari kualtas suara suara yang dapat divariasikan oleh guru, lebih konsentrasi dan merasa ada pengalaman baru terhadap suara itu. Bisa saja guru merekam suaranya dirumah atau merekam suara lain yang patut didengarkan dan punya relevansi dengan materi pelajaran.
c. Variasi Media Taktil (media yang dapat diraba atau dimanipulasi)
Media taktil merupakan media pembelajaran yang dapat disentuh, diraba, atau dimanipulasikan. Dalam hal ini akan melibatkan siswa dalam kegiatan penyusunan atau pembuatan model, yang dihasilkan dapat disebut sebagai media taktil.meia seperti model, patung, alat mainan, binatang hidup yang kecil, dan s bagainya, dapat diberikan kepada siswa untuk diraba dan dimanipulasi. Penggunaan media ini pada dasarnya merangsang siswa untuk kreatif.
3. Variasi Pola Interaksi
Variasi dalam pola interaksi yang lazim dilakukan guru menurut Nana Sudjana (1989), yaitu:
a. Komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satu arah. Dalam komunikasi ini guru berperan sebagai pemberiaksi dan siswa sebagai penerima aki. Guru aktif dan siswa pasif. Ceramah pada dasarnya adalah komunikasi satu arah,atau komunikasi segai aksi.
b. Komunikasi sebagai interaksiatau komunikasi dua arah. Pada komunikasi ini guru dan siswa dapat berperan sama yaitu pemberi aksi dan penerima aksi. Di sini, sudah terlihat hubungan du arah, tetapi terbatas antara siswa dan guru secara individual. Keduanya dapat saling memberi dan meneima. Komunikasi ini lebih baik dari pada yang pertamagiatan guru dan kegiatan siswa relatif sama.
c. Kominikasi banyak arah atau komunikasi sebagai transaksi. Komunikasi ini tidak hanya melibatkan interaksi dinamis antara guru dengan siswa tetapi juga melibatkan interaksi yang dinamis antara siswa yang satu dengan yang lainya. Proses beajar mengajar dengan pola komunikasi ini mengarah kepada proses pengajaran yang mengembangkan kegiatan siswa yang optimal, sehingga menumbuhkan siswa belaja aktif. Diskusi, simulasi merupakan strategiyang dapat mengembangkan komunikasi ini.
Dalam pola interaksi, guru bisa menggunaan metode pembelajaran secara berviasi, tentunya harus di sesuaikan dengan tujuan, materi pembelajaran serta situasi dan konsisi. Susunan atau bentuk kelas dapat di rubahsesuai dengan kegiatan belajar tertentu. Dalam kegiatan diskusi, susunan meja melingkar lebih cocok dari pada susunan klasik dengan meja-meja siswa berderet ke belakang dan meja guu terletak di depan kelas. Belajar bebas(sendiri)dapat diatur diasalah satu pojok yang disediakan untuk itu, bila mungkin, diruang khusus dalam perpustakaan.























BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat diambil simpulan:
1. Variasi adalah keanekaan yang membuat sesuatu tidak monoton. Bahkan dapat berwujud perubahan-perubahan atau perbedaan-perbedaan yang sengaja diciptakan untuk memberikan kesan yang unik.
2. Tujuan variasi dalam proses pembelajaran diantaranya agar perhatian siswa meningkat, memotivasi siswa, menjaga wibawa guru dan mendorong kelengkapan fasilitas pengajaran.
3. Prinsip variasi dalam proses pembelajaran ada tiga diantaranya Pertama, variasi hendaknya digunakan dengan maksud tertentu, relevan dengan tujuan yang hendak dicapai sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Kedua, variasi harus digunakan secara lancar dan berkesinambungan sehingga tidak akan merusak perhatian siswa dan tidak mengganggu pelajaran. Ketiga, sejalan dengan kedua prinsip yang telah disebutkan maka komponen variasi tertentu memerlukan susunan dan perencanaa yang baik.
4. Dimensi-dimensi variasi dalam proses pembelajarannya diantaranya ada variasi dalam gaya mengajar guru dan variasi dalam penggunaan media.











DAFTAR PUSTAKA

Afifudun dkk. 2004. Administrasi Penddidikan. Bandung. Insan Mandiri Offset.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Fathurrahman, Pupuh dan Sutikno Sobry. 2007. Strategi Belajar Mengajar (Strategi Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami). Bandung: Refika Aditama.
Koontz, Harold. 1980. Management. Tokya: Kogakhusa, Ltd.
Siagian, Sondang P. 1986. Analisa serta Perumusan Kebijaksanaan dan Strategi Organisasi. Jakarta: Gunung Agung.
Sudjana, Nana. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Sutikno, Sobry dan Rosyidah, Ida. 2009. Media Pembelajran.Bandung: Prospect.
Winata putra, Udin S. 2004. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Universitas Terbuka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar